
Mengenal Tarekat Khalwatiyah
Istilah Khalwatiyah berasal dari kata khalwat, artinya berdiam diri, sendirian, menyendiri, mengasingkan diri sambil bertafakkur, sebagaimana halnya Nabi saw sesaat sebelum menerima wahyu, setiap harinya berkhalwat di Gua Hira.
Khalwat merupakan proses meditasi hati dengan cara pengasingan diri untuk menenangkan pikiran, mencari ketenangan batin di keheningan yang sunyi dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan demikian, berkhalwat salah satu metode tarekat yang utama dan lebih awal diamalkan Nabi saw sebelum turunnnya wahyu pertama, iqra bismi rabbikal lazi khalaq…. (QS. al-Alaq/96:1-5).
Metode khalwat menjadi awal asbabun nuzul turunnya ayat pertama al-Qur’an. Dengan kata lain, ajaran tarekat dengan cara berkhalwat telah dicontohkan Nabi saw jauh sebelum ditetapkan ajaran Islam lainnya yang diwahyukan kepadanya.
Istilah khalwat tersebut kemudian menjadi nama tarekat Khalwatiyah dengan adanya penambahan yā’ nisbah, dinisbatkan kepada tokoh dan sufi, Syekh Abdullah asy-Syarwani al-Khalwatiy bernama lengkap Maulana Syekh Sayyid Abdullah Muhammad bin Nur asy-Syarwani al-Khalwatiy kemudian dikembangkan keponakannya yakni Syekh Afandi Sirajuddin Umar al-Khalwatiy (w 730 H).
Abdullah asy-Syarwani dan Syekh Umar, keduanya diberi julukan al-Khalwatiy karena selalu berkhalwat dan mendapat talqin tentang tujuh Asma al-Husna dan dalam tujuh tahapan zikir khalwat dari Syekh Ibrahim al-Kailāni yang diterimanya dari Syekh Sayyid Jamaluddin at-Thabrīsyi (w. 640 H) dari Syekh Sayyid Syihābuddin at-Thabrīsyi al-Syiraziy (w. 629 H).
Syihābuddin at-Thabrīsyi Syirāziy menerima ijazah dari Ruknuddin at-Thabrīsyi (w. 615 H), dari Qutubuddin Muhammad bin Ahmad al-Abhāriy (w. 590 H), dari Najib bin Abdullāh as-Suhrawardīy (w. 563 H), dari Umar bin Abdullāh al-Bakri (w. 470 H), dari Muhammad Ibn Abdullāh al-Bakri (w. 425 H), dari Ahmad Aswad ad-Dainuriy (w. 370 H), dari Mumsyad ad-Dainuriy (w. 299 H), dari Junaid al-Bagdādiy (w. 297 H).
Junaid al-Bagdadiy menerima ijazah dari Syekh Sir as-Saqatiy (w 203 H), dari Ma’rūf al-Karkhīy (w. 199 H), dari Dāwud at-Thā’i (160 H), dari al-Gauts Habib al-Jāmi’ (w. 156 H), dari Hasan al-Bashrīy (w. 110 H), dari Ali bin Abu Thālib Karramallahu Wajhah (w, 40 H), dari al-Mushtāfa Rasulullah Muhammad Saw.[1]
Berikutnya, Tarekat Khalwatiyah melahirkan cabang-cabang di berbagai wilayah seperti di Anatolia Asia Kecil dengan nama Khalwatiyah Ighithāshiyah, Syayāqiyah, Jarrāhiyah, Syujāiyah, Sunbūliyah, Syamāiyah, Niyāziah, dan Khalwatiyah Gulsāniyah.
Di Mesir, adalah Khalwatiyah Daifiyah, Hafnawiyah, Saba’iyah, Sawiah Dardiyah, dan Magaziyah. Di Nubia, di Hijaz dan di Somalia adalah Khalwatiyah Shalihiyah. Di Indonesia adalah Khalwatiyah Yusuf.
Perspektif sejarahnya, Tarekat Khalwatiyah memiliki perkembangan cukup pesat dengan berbagai cabangnya, sebagai berikut:
- Khalwatiyah Jama’iyah, dinisbatkan ke Syekh Jamal al-Din al-Aqshari (w. 893 H/1485 M)
- Khalwatiyah Sunbuliyah, dinisbatkan ke Syekh Yusuf Sumbul Sanan (w. 936 H/1529 M).
- Khalwatiyah Ahmadiyah, pendirinya Syekh Ahmad Syamsuddin al-Bakhtiyasyi (w. 930 H/1433 M)
- Khalwatiyah Sya’baniyah, pendirinya Syekh Sya’ban Wali (w. 975 H/1568 M)
- Khalwatiyah Sananiyah, dinisbatkan ke Syekh Ibrahim Umi Sanan (w. 975 H/1568 M)
- Khalwatiyah Isyaqiyah, dinisbatkan ke Syekh Husni al-Hisamuddin Isyaqi (w. 1001 H/1593 H)
- Khalwatiyah Syamsiah, tokohnya Syekh Syamsuddin al-Siwasi (w. 1010 H/1602 M)
- Khalwatiyah Jalwatiyah, tokoh utamanya Syekh Aziz bin Mahmud Khadiri (w. 1037 H/1628 M)
- Khalwatiyah Qurabasyiyah, dinisbatkan ke Syekh ‘Ali Alauddin Qarbasi Wali (w. 1096 H/1639 M).
- Khalwatiyah Mishriyah, dinisbatkan ke Syekh Nawazi Mishri (w. 1104 H/1693 H)
- Khalwatiyah Damardasyiyah, tokoh utamanya Syekh Muhammad Damardasiy (w. 930 H/1526 M)
- Khalwatiyah Kalsyaniyah, tokoh utamanya Syekh Ibrahim Kalsyan (w. 940 H/1534 M).
- Khalwatiyah Ashaliyah, dinisbatkan ke Syekh Ahmad bin al-Haririhy al-Ashaliy (w. 1050 H/1639 M)
- Khalwatiyah Bahsyiyah, tokohnya Syekh Muhammad al-Bahsyi al-Halbi (w. 1098 H/1687 M)
- Khalwatiyah Syekh Yusuf, dinisbatkan kepada Syekh Yusuf al-Makassariy (w. 1110 H/1699 M)
- Khalwatiyah Nashishiyah, tokoh Syekh Muhammad al-Nashishi (w. 1124 H/1718 M)
- Khalwatiyah Jarahiyah, tokoh utamanya adalah Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarahiy (w. 1127 H/1721 M)
- Khalwatiyah Jamaliyah, tokohnya Syekh Muhammad Jamaluddin Isyaqiy (w. 1157 H/1751 M)
- Khalwatiyah Raufiyah dengan tokoh utamanya Syekh Ahmad Rauf (w. 1163 H/1757 H)
- Khalwatiyah Shalaniyah, dinisbatkan ke tokoh Syekh Abdullah Shalahuddin Isyaqiy (w. 1198 H/ 1784 M)
- Khalwatiyah Ibrahimiyah, tokohnya Syekh Ibrahim al-Khalwatiy (w. 1265 H/149 M)
- Khalwatiyah Saiza’iyah, dinisbatkan ke Hasan Saiza’i (w. 1144 H/1738 M)
- Khalwatiyah Zahruwiyah, tokohnya Syekh Ahmad Zahr (w. 1150 H/1744 M) sebagai cabang dari tarekat Khalwatiyah Sananiyah.
- Khalwatiyah Hayatiyah, dinisbatkan ke adalah Syekh Muhammad al-Hayati (w. 1172 H/1766 M).[2]
Khusus untuk Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy (lihat nomor urut 15 di atas), berkembang di Nusantara berasal dari jalur sanad Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwatiy al-Quraisyi. Sanad tarekat tersebut diterima Syekh Sayyid Muhammad Yusuf Abul Mahasin al-Khadrami Taj al-Khalwatiy al-Makassariy (selanjutnya disebut Syekh Yusuf) ketika berada di Damaskus.
Selain menerima ijazah kemursyidan, Syekh Yusuf juga menerima hadiah berupa gelar Taj al-Khalwatiy yang berarti mahkotanya Tarekat Khalwatiyah. Gelar tersebut dari sang guru, Syekh Ayyub Abu al-Barakat diijazahkan kepada Syekh Yusuf.
Kemudian salah seorang murid Syekh Yusuf sekaligus khalifahnya yang kelak menjadi mursyid, yakni Syekh Abul Fatih Abdul Bashir al-Dhaririy al-Raffaniy yang dikenal dengan nama Tuan Rappang al-Khalwatiy diutus ke wilayah kerajaan Gowa saat itu mendakwahkan tarekat Khalwatiyah, mengajarkan, dan mengembangkan tarekat tersebut.
Tuan Rappang, adalah murid Syekh Yusuf sejak di Mekah. Saat Syekh Yusuf kembali dari Mekah ke Banten, Tuan Rappang ikut serta, namun sebelum ke Makassar, Tuan Rappang menetap di Banten beberapa lama bersama Syekh Yusuf. Saat di Banten, Syekh Yusuf menikahkan Tuan Rappang dengan seorang gadis.
Tuan Rappang bertolak dari Banten ke Makassar dengan menggunakan sampan kecil bersama istrinya, dan berlabuh di Sungai Jeneberang Gowa. Dikisahkan bahwa sampan yang ditumpangi Tuan Rappang saat berlayar, didorong oleh angin sampai tujuan, di Makassar.[3]
Selain Tuan Rappang yang tiba di Nusantara tahun 1678 M, masih berdatangan pula murid-murid dan pengikut syekh Yusuf mengembangankan tarekat ini. Mereka adalah jemaah haji yang sedang menuju Makkah dan Madinah, singgah belajar di Syekh Yusuf saat diasingkan di Ceylon dan sekembalinya dari sana mereka memperkenalkan tarekat Khalwatiyah di daerahnya masing-masing.
Sumber: Buku “Tarekat Khalwatiyah: Dari Syekh Yusuf ke Puang Makka” karya Dr. Machmud Suyuti, M.Ag. Penerbit IAIN Parepare Nusantara Press, 2024
[1]Lebih lengkap tentang silsilah sanad Tarekat Khalwatiyah, lihat halaman lampiran buku ini.
[2]Tilmīz min Syaikh Munawir Kirtasana Anjuk, Sabīl al-Sālikīn wa Anwāʻ al-Tharīqah fī Indūnisia (Pasuruan: Pondok Pesantren Ngalah, 2012), h. 356-357.
[3]Lebih lanjut tentang peran Tuan Rappang dan proses dakwah nya dalam pengembangan tarekat khalwatiyah di Makassar, dibahas khusus dalam artikel selanjutnya



