
Mengenal Puang Makka
- Posted by Haramain 84
- Categories Blog
- Date Februari 9, 2025
- Comments 0 comment

Puang Makka, bernama lengkap Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka, lahir di Makassar tanggal 14 September 1960. Di kalangan para syekh dan jamaah tarekat di Pulau Jawa, Puang Makka lebih masyhur dengan sapaan Habib Puang, sebagian lagi sahabat akrabnya menyapa dengan nama Habib Rahim
Istilah habib dan sayyid, memang berbeda makna. habib artinya yang dicintai atau kekasih, sedangkan sayyid artinya yang dimuliakan. Namun antara habib dan sayyid memiliki kesamaan makna jika digunakan untuk sapaan zurriyatur rasul, keturunan Nabi saw.
Hanya saja, aturan dalam Rabhitah Alawiyah disebut kan bahwa semua Sayyid bisa disapa habib karena sayyid sudah pasti keturunan Nabi saw. Seiring perkembangan zaman, para sayyid dicintai oleh lingkungan masyarakatnya, dicintai oleh murid-muridnya, pengikut dan jamaahnya, sehingga walaupun dia sayyid seringkali disapa habib.
Khusus untuk Puang Makka tetap saja bisa disapa habib, tetapi jika dalam penulisan namanya lebih tepat diikutkan kata sayyid, sebab dari leluhurnya sudah melekat tulisan sayyid pada awal nama-nama mereka, yakni sejak dari kakeknya Awwalu Assegaf di daerah ini, Sayyid Alwi Assegaf Tuan Karamah.
Nama lengkap Puang Makka secara nasab sampai ke Tuan Karamah, adalah Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf bin Sayyid Djamaluddin Assegaf bin Sayyid Hanbali Assegaf bin Sayyid Abd. Razzaq Assegaf bin Sayyid Ahmad Shaleh Assegaf bin Sayyid Zainuddin Assegaf bin Sayyid Abd Gaffar Assegaf Qadhi Bontoala bin Sayyid Husain ay Muhsin Assegaf bin Sayyid Alwi Assegaf Tuan Karamah bin Sayyid Abdullah Assegaf al-Allamah al-Thahir.
Di sisi lain, jika seseorang bertemu langsung dengan Puang Makka, baik bersama dengannya maupun berbicara langsung dengannya, lebih akrab jika menyebut puang saja, atau orang Makassar menyebutnya karaeng, tanpa ada tambahan nama. Justru Puang Makka, kurang setuju untuk tidak mengatakan tidak senang jika beliau disapa dengan nama pak kiai, pak ustad, gurutta, gurukku, anrongguru, annangguru dan lain-lain yang semakna dengan itu.
Nama Puang Makka, memang populer di mana-mana namun yang kenal dengan beliau tidak sepopuler dengan kenyataan karena banyak yang belum ketemu langsung dengannya. Mereka hanya sekedar mendengar namanya saja, tapi belum pernah silaturrahim. Mereka mengenal Puang Makka dari lisan ke lisan, sebagian lagi (mungkin) lewat medsos, terutama di youtube, facebook, instagram, twitter dan semacamnya.
Bagi yang pernah sowan dengan Puang Makka, tentu sedikit sudah mengenal siapa beliau sebenarnya. Apalagi mereka yang sering silaturrahim dan lumayan akrab pasti mengenal Puang Makka sebagai ulama yang kharismatik, tokoh agama yang berwibawah, tokoh masyarakat yang disegani dan sebagai mursyid tarekat dengan berbagai kemuliaan pada dirinya.
Karena itu, sangat wajar jika Puang Makka seringkali dikunjungi oleh banyak kalangan dari berbagai profesi dan stratifikasi sosial, mulai dari masyarakat awam lapisan bawah, masyarakat menengah dan atas tidak terkecuali pejabat, pengusaha dan politisi yang datang minta restu sekaligus doa keberkahan. Selain itu ada pula yang sengaja datang untuk silaturahim dengan berbagai macam hajat dan kepentingan tertentu.
Puang Makka memang sudah terbiasa menerima tamu dan jamaah berlama-lama. Para tamu antri silaturahim sampai tengah malam. Demikian pula para jamaahnya bergiliran non stop berdatangan untuk tabaruk. Sesaat setelah melayani jamaah dan tetamunya, Puang Makka kembali disibukkan beribadah, yakni mengamalkan zikir-zikir dan wirid tarekatnya di tengah malam sembari menunggu masuknya waktu subuh.
Puang Makka di hampir setiap malamnya hanya tidur sedikit, layanāmu illa qalīlah. Tidurnya paling maksimal dua jam dan pantang tidur sebelum mendoakan jamaahnya. Selain tidur sedikit, Puang Makka juga makan sedikit. Nanti lapar baru makan, tetapi seringkali makan hanya sekali dalam sehari dan semalam. Jarang beliau lapar, praktis jarang pula makan.
Pola makannya Puang Makka, seperti Puang Ramma. Saat makan, selalu memakai kopyah, sebelum makan dimulainya dengan doa, diikuti cicipan garam. Kebiasaan nya adalah makan berjamaah bersama keluarganya. Jika masih bersama tamu-tamunya atau jamaahnya, maka Puang Makka mengajak mereka makan berjamaah, dan lebih mendahulukan tamunya atau jamaahnya untuk mengambil prasmanan.
Pola hidup Puang Makka memang kelihatan tampak sederhana sama dengan kebanyakan masyarakat awam, namun terasa ada energi magnet untuk selalu berada di sampingnya. Banyak orang menuturkan sesuai dengan kesaksiannya, sesuai kata hatinya dan sesuai yang dialami nya bahwa jika bersama dengan Puang Makka terasa sejuk, adem, hati terasa tenang.
Dari segi style penampilannya, Puang Makka jika di lingkungan keluarga dan orang-orang terdekatnya lebih senang mengenakan pakaian baju kaos dan sarung menutupi pusar. Biasanya juga menggunakan celana batik, bahkan terkadang celana pendek menutupi lutut.
Untuk acara-acara resmi, Puang Makka lebih terbiasa tampil menyesuaikan, namun tidak pernah terlepas peci putih di kepala, selendang surban khas yang melingkar dari belakang pundak menutupi sebagian di dada.
Khusus untuk acara resmi tarekat, Puang Makka lebih akrab dengan pakaian khas habib, serbah putih lengkap dengan surban imamah di kepala, dan tidak lepas tongkat di tangan. Biasanya untuk acara resmi seperti ini, Puang Makka dalam posisinya sebagai mursyid tarekat selalu disertai ajudan atau stafsus satu sampai tiga orang.
Sumber: Buku “Tarekat Khalwatiyah: Dari Syekh Yusuf ke Puang Makka” karya Dr. Machmud Suyuti, M.Ag. Penerbit IAIN Parepare Nusantara Press, 2024
You may also like


